Review Honda Genio Oleh Rider “Kelas Berat” ; Membelah Belantara Ibukota dan Sambangi Museum Bersejarah! SERU!

IndoRide.com – Assalamualaikum brosist, salam geber sampai redline!

Bro, tanggal 7 September 2019 kemarin, ibukota bermandikan sinar matahari, yang artinya hari sangat cerah dan cocok untuk beraktivitas. Hari yang cerah bikin hati saya juga cerah banget untuk mengikuti Saturday Morning Riding yang diadakan oleh Main Dealer sepeda motor Honda Jakarta Tangerang, PT. Wahana Makmur Sejati (WMS) dengan motor terbarunya yakni Honda Genio. Yap, pasca peluncurannya bulan Juni lalu, saya memang masih sangat penasaran dengan motor ini. Maklum, area test terbatas tentunya gak bisa dieksplor lebih dalam bro! Okeh, karena udah semangat banget, jam 6 kurang udah gas dari rumah, sampai di showroom Wahana pukul 6.45. Jakarta di sabtu pagi memang sangat bersahabat! :D.

Pilih mana?

Di sana, saya langsung disajikan dengan pemandangan belasan motor Honda Genio yang berjejer rapi sedang disiapkan untuk kami pakai. Satu persatu sahabat Blogger Vlogger ibukota pun datang. Pokoknya rame banget, ada lek IWB, lek Aripitstop, mang Kobayogas, om Vandra MMBlog, lek Muslim bmspeed7, mang wisnu viwimoto dll. Motovlogger juga ada mas Revdy stunter, Irsan56, just fathi, dll. Beuh, bakal rame banget inih!

Tonton dulu review Genio sebelumnya :

Singkat cerita, acara diawali dengan briefing bersama untuk mengetahui spesifikasi teknis lebih lengkap dari Honda Genio itu sendiri. Selanjutnya, diadakan edukasi safety riding oleh tim Safety RIding Wahana Honda, untuk mengetahui tata cara membawa motor di dalam kota. Oke deh, gak sabar, langsung kami memilih motor yang akan dikendarai!

Dipilih dipilih!

Saya pun memilih Honda Genio CBS warna putih berkelir biru yang terlihat matching banget. Cocok banget sih karena warna putih biru ini merefleksikan gaya anak muda yang energik, GEN EKSIS banget dah pokoknye! Kagak lupa untuk foto didepan motornya dulu, biar berasa banget bikers sosmednya. wkwkwk! :D.

Oh iya, riding kali ini gak cuma untuk mengelilingi mantan calon ibukota saja lho bro. Tapi juga dimanfaatkan oleh tim Wahana Honda untuk mengajak Blogger serta Vlogger mengunjungi museum bersejarah di Jakarta. Biar bagaimanapun, adanya dan nyamannya kita saat ini, ada peran dari pendahulu kita, nenek moyang kita yang sebelumnya menghuni Nusantara. Cocok banget, membangkitkan jiwa-jiwa cinta sejarah saya yang tumbuh sejak SD dulu!

Lupa foto, lepas helm lagi dah! wkwkwk

Kami pun ngegas Honda Genio ini, bareng bersama 15 Blogger dan Vlogger yang masing-masing memilih warna sesuai preferensi. Start dari Wahana Honda Gunung Sahari, traffic gak begitu padat khas Sabtu pagi, dan pastinya cuaca cerah dan gak begitu banyak polusi. Terlhiat dari langit yang cukup biru dan gak terhalang asap tebal. Kami pun menuju ke destinasi pertama : Museum (Gedung) Joang 45, Menteng, Jakarta.

First Impression Honda Genio, LINCAH!

Honda Genio diposisikan sebagai sebuah skutik yang merepresentasikan anak muda eksis, mobilitas tinggi, dengan kelincahan yang tentunya bikin anak muda seneng bawa motor ini kemanapun ia mau. Yap, hal inilah yang pertama kali saya rasakan saat membawa Honda Genio. Walau secara postur saya memang cocoknya naik FORZA, tapi, masih bisa enjoy kok. Ergonomi masih cukup, walau gak begitu nyaman untuk postur saya. Memang, harus yang posturnya standar anak muda Indonesia (170an cm) untuk merasakan nyaman naik motor ini. Ini sih, pure salah rider. Wkwkwkw..

Dengkul gak natap atau mentok, ergonomi sedikit mirip Beat namun kerasa lebih tinggi akibat jok yang sedikit lebih lebar. Dibawa jalan kaki menapak dengan sempurna di deknya yang cukup lebar dan pastinya muat bawa galon. Oh ya, tapi memang saat belok, dengkul mentok ke stang, lagi lagi salah kaki saya yang terlalu panjang nih. Wkwkwk,tinggi saya sekarang hampir 183 cm, brok! Wajar dah ya. Stang yang lebih lebar daripada Beat yang ada dirumah, bikin mentok dengkul masih terasa. Tapi ini bukan masalah berarti, karena dengan duduk munduran dikit masalah ini dengan mudah diatasi. Lagi-lagi, salah ridernya, wkwkwk!

Buka gas, penasaran dengan performa mesin 110cc eSP terbaru dari Honda ini. Asli, karena Stroke yang lebih panjang menjadi 63,1mm, dengan piston 47mm. Stroke yang lebih panjang tentunya akan menguatkan torsi di putaran bawah bro, yang bikin konsumsi bahan bakar menjadi lebih irit karena gak perlu buka gas dalam, motor udah lari. Begitulah kira-kira… Karakter yang cocok dengan pemakaian riding dalam kota, yang mayoritas mendukung Stop n Go. Butuh banyak buka gas. Gimana impresi saya, dengan bobot 1 kwintal lebih?

Ternyata, tenaga bawahnya cukup asik. Tenaga ngumpul di putaran bawah begitu kita buka gas, namun mulai smooth di putaran tengah sehingga mesin gak meraung terlalu tinggi, tapi motor udah jalan dengan kecepatan lumayan. Hmm, penasaran, coba tarik gas lagi setelah lewat lampu merah pertama Gunung Sahari, sama nih! Torsi ngumpul setelah kita tarik gas, dan mulai smooth di putaran tengah, lalu pelan-pelan naik hingga top speed. Irit nih! Walau, emmang gak terlalu intimidatif, ya apa yang anda harapkan dari mesin 110cc? Segini udah cukup menurut saya sih.. Yang penting Effortless untuk mencapai 60km/jam di jalur lurusan.

Lalu soal pengendalian motor di jalanan dalam kota. Gimana? Rangka eSAF alias Enhanced Smart Architecture Frame, yakni sebuah rangka yang terbuat dari plat besi yang disatukan sehingga menambah rigid rangka yang membuat motor menjadi lebih mudah dikendalikan, menurut klaim AHM. Benarkah?

Saat ditest, coba untuk nikung-nikung sedikit di jalur arah Stasiun Gambir, dan manuver mendadak untuk nyalip mobil, yang saya rasakan memang menjadi lebih ringan nih handlingnya dibanding dengan saudara-saudara sepermesinannya seperti Beat Scoopy dll. Tapiii… Karena lebih ringan dan terasa mudah, saya yang biasa bawa beat jadi kagok dan berasa aneh. Apa karena masih penyesuaian ya? Ternyata pas dicoba untuk jarak lebih jauh lagi hingga ke Museum Joang 45, saya mulai bisa menyesuaikan. Intinya, handlingnya oke walau bukan yang terbaik, tapi masih sangat mudah dikendalikan bro.

Untuk suspensinya sendiri, terasa standar aja lah ya. Lewat speedbump kecil masih oke, gak terlalu bikin badan keguncang. Begitu juga pas lewat jalan yang agak rusak di daerah menteng, suspensi bekerja cukup baik walau di beberapa spot yang agak dalam bikin cukup tersentak. Ternyata eh ternyata, masalah ada di ban yang tekanan anginnya terlalu tinggi. Hal ini juga diamini oleh teman blogger lain. Alhasil setelah dikurangi sedikit tekanan anginnya, jadi oke lagi! Handling juga berasa lebih enak dari sebelumnya. Oalaaahh, gitu tooh! :D.

Singkat cerita, sampai di Gedung Joang 45. Kami dipertunjukkan saksi sejarah kemerdekaan Indonesia yang diprakarsai oleh golongan muda, yang merencanakan, belajar, dan menjalankan semuanya lewat sebuah bangunan bernama Gedung Menteng 31. Gedung yang awalnya Hotel ini dibangun oleh Belanda di tahun 30an, dimana saat itu untuk menjadi tempat istirahat pejabat Belanda dan pejabat Pribumi saat singgah ke Batavia. Yang akhirnya pada masa kependudukan jepang, geudng ini diserahkan untuk golongan muda yang mengisi gedung ini dengan kegiatan mengembangkan diri dari segala keilmuan, oleh dan untukpara pemuda Indonesia, dengan tujuan kemerdekaan.

Sekarang, dalamnya sudah jadi museum, dengan koleksi yang bikin merinding, bukan karena seram, merinding karena kita jadi mengetahui betapa saat itu sulitnya para pahlawan merebut kemerdekaan Indonesia. Disana, kami juga ditampilkan film-film lawas mengenai kemerdekaan Indonesia, dan tentunya yamg paling unik adalah koleksi mobil Bung Karno saat menjadi Presiden Indonesia! Mobilnya masih nyala semua lho bro! Kerenn..

Dari sini kami melanjutkan kembali perjalanan menuju Museum Nasional di jalan Medan Merdeka Barat. Jalur yang dilewati pun khas sabtu pagi, lancar djayaahh! Belum bisa ngetes performanya di kemacetan dah! Wkwkwk.. Tapi disini saya dapet impresi mengenai tenaganya diputaran atas, karena banyak ketemu jalan lurus panjang. Alhasil? Motor ini dapat dengan mudah mendapat 80km/jam. Putaran atasnya justru cukup mengagumkan, walau dengan stroke panjang yang biasanya mengorbankan putaran atas. Nyatanya, Honda membuat Genio bisa berkitir di putaran atas tanpa effort berlebih. Mayan daah!

Ngetes performa rem saat ketemu lampu merah. Rem CBSnya terasa beda dengan Beat yang pernah saya coba sebelumnya. Terasa lebih gigit dan pakem saat saya coba rem belakang saja. Kombinasi pake rem depan juga mantap, gak ada gejala ngepot. Wah, mantul juga nih. Mungkin karena masih baru yahh! :D.

Akhirnya setelah melewati jalur yang cukup singkat namun penuh impresi, halaahh! Akhirnya kami sampai di Museum Nasional, atau yang biasa dikenal dengan Museum Gajah! Kenapa museum Gajah? Karena ada persembahan patung gajah dari Siam, Thailand, yang masih terpajang rapi didepan Museum ini. Sejak 1800an bro! Gokil abis… Baru pertama kali nih kesini, dasar kudet bener saya, benyakan maen ke mol, jarang ke museum! Tumannn! 😀

Disini kami banyak menjumpai Arca atau patung dari zaman kerajaan Hindu dan Buddha di Indonesia. Yap, agama yang pertama kali dibawa ke Indonesia dan berkembang begitu pesat hingga menciptakan kerajaan-kerajaan super besar yang menjadi titik awal kebangkitan Nusantara. Patung-patung yang beraura magis berdiri sejak tahun 1800an ini seakan membawa saya dan teman-teman kembali ke masa itu. Kagum melihat ketekunan dan darah seni orang zaman dahulu, yang bikin patung dari batu super keras, dipahat hingga jadi bentuk patung dengan ukiran yang indah. Keren banget!

Ironisnya, yang kemari di hari weekend kebanyakan warga asing yang penasaran dengan sejarah Bangsa Indonesia. Masih pada muda muda pula… Saya merasa DITAMPAR ketika tahu fakta ini. Hmmm… Sabtu minggu biasa makan di mall atau jalan makan di restoran fastfood! 😥

Kunjungan di Museum Gajah kami akhiri, kami kembali gas motor masing-masing menuju ke Pelabuhan Sunda Kelapa. Gak begitu jauh, mungkin jarak hanya sekitar 10km saja menuju ke Pelabuhan. Melewati Kota Tua yang hari minggu cukup padat turis asing maupun lokal :D. Disini saya baru bisa merasakan sensasi manuver menggunakan Genio. Tekuk kanan, tekuk kiri, rasanya asik banget, effortless! Rangka baru, plus dimensi yang compact bikin motor ini super enak ditekak-tekuk di kemacetan.

Selap-selip truk di jalan arah menuju Pelabuhan pun bukan masalah yang sulit. Kombinasi rangka baru plus mesin baru yang lebih torqy bikin motor ini enak dibawa di kondisi jalanan hectic begini. Waooowww.. EMang cocokkk buat dalam kota! Gen Eksis bener dah! :D.

Jangan lupa narsissss

Kami pun mengakhiri perjalanan di Restoran Marina Sunda Kelapa. Disini kami menghabiskan waktu dengan MAKAN, terus ngobrol-ngobrol dan silaturahmi bareng temen-temen Blogger dan Vlogger yang bener-bener guyub rukun! Kami ngobrol tanpa ada batasan, ngobrolin otomotif dan pengalaman hidup yang tentunya punya kesan bagi masing-masing dari kami. Inilah yang paling saya tunggu dari Event bareng Wahana, berteu dengan temen-temen Blog/Vlogger untuk silaturahmi dan sharing! Sungguh priceless moment. Lebih asik sambil nyeruput Capuccino hangat… Perfecto..

Last, itulah sedikit impresi saya mengenai review Honda Genio dan perjalanan saya bersama Wahana Honda Sabtu kemarin. Rencananya mau saya buat vlog reviewnya, tunggu aja di channel saya : IndoRide Channel di Youtube ya Bro! Bebas, lebih suka tulisan atau nonton di Youtube juga boleh! :D.

Terimakasih Wahana Honda!

Semoga berguna!

Jangan lupa follow media sosial saya lainnya untuk bersilaturahmi..

Instagram : @indoride
Facebook Fanspage : Indoride.com
Facebook : Alki Rahmatullah

Twitter : @alkirahmatullah
Gmail : [email protected]

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*